Kamis, 01 April 2010, sekitar pukul 19.30 di Basement gedung 2 STMIK Amikom Yogyakarta, saya bersama teman-teman kost nonton “Sang Pelacur” secara gratis. Dari judul artikelnya saja sudah tahu kan yang saya maksud adalah nonton teater dengan judul sang pelacur, bukan pelacur beneran. Seingat saya, ini pertama kalinya saya nonton langsung yang namanya teater. Lakon dari teater sang pelacur ini diperankan oleh anak-anak dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Teater Manggar angkatan 10 yang ada di kampus saya (STMIK Amikom Yogyakarta). Dari nama angkatan 10 ini mungkin angkatan baru dan semua lakon adalah mahasiswa baru (saat ini sudah semester 2). 

Singkat cerita, “Sang Pelacur” menceritakan tentang seorang wanita bernama ‘Kunti’ yang mempunyai pekerjaan sebagai pramuria (ambil bahasa yang lebih sopan dikit aja ya). Di rumahnya yang terbilang mewah, dia tinggal bersama pembantunya (Minah). Kekayaan yang dimiliki dari pekerjaan kotor sampai memiliki rumah mewah bukan semata-mata karena pekerjaan dia sebagai pramuria, tetapi juga karena dia main dukun.

Pada suatu malam, Kunti kedatangan tamu-tamu yang aneh. Ada pengemis yang minta makan dan menginap, remaja yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang diusir majikannya karena mecahin piring, dan seorang maling. Pada akhirnya ketiga tamu aneh tersebut diijinkan untuk tinggal dirumah Kunti.

Hari semakin larut malam. Kemudian datang lagi tamu seorang pria paruh baya. Pria tersebut ternyata adalah ‘Bejo’, sopir dari pak Gondo. Pak Gondo ini adalah pria yang ditunggu-tunggu Kunti karena sudah janjian sebelumnya. Kedatangan pak Bejo memberi kabar bahwa pak Gondo masuk rumah sakit. Kemudian pak Bejo dan Kunti ngobrol panjang lebar sampai bercerita masalah keluarga pak Bejo. Dari pembicaraan tersebut, Kunti sadar bahwa pak Bejo adalah ayah kandung Kunti yang sudah sekian lama berpisah. Para tamu aneh yang menginap di rumah Kunti dipanggil. Hingga pada akhirnya pak Bejo mengenali seorang pencuri yang menginap di rumah Kunti sebagai putranya yang juga adalah kakak kandung dari Kunti. Dari pertemuan tersebut Kunti dan Kuntono (si pencuri) meminta maaf kepada ayah mereka (pak Bejo) dan tidak akan mengulangi perbuatan tercela mereka. Pertemuan yang disertai tangis tersebut merupakan pertemuan kembali sebuah keluarga yang hilang (yaitu Kunti). Selesei.

Hohoho… bisa juga saya cerita, meski tidak terstruktur. Kurang lebih begitulah ceritanya. Menurut penilaianku, ceritanya terlalu biasa dan lakonnya juga kaku, lebay, dan lain sebagainya. Bagusan poster iklannya (hehehe). Tapi aku kasih applause deh buat acaranya. Untuk lakon, menurut saya lakon yang paling bagus aktingnya adalah Minah si pembantu. Tapi saya memberi penilaian bagus saat penampilan diakhir cerita ketika pertemuan kembali keluarga tersebut yang disertai tangisan haru. Saat itu meski si pembantu hanya berdiri saja, dia juga ikut terharu. Lah, akting terharu si pembantu itulah yang menurut saya bagus. Seperti bukan lagi akting, tapi terharu beneran. Mewek gitu. Tahukan arti mewek? Ya mau nangis gitulah.

Waktu nonton saya kebagian duduk di belakang (lesehan). Jadi tidak begitu kelihatan betul panggungnya. Yang nonton selain dari Amikom sendiri juga banyak dari UII (fak. ekonomi). Para penonton pada ramai sewaktu nonton. Apa memang seperti itu ya kalau menonton teater? Kalau opera seperti di luar negeri sana, penonton malah dilarang berisik.

Dalam cerita teater sang pelacur juga ada bancinya yang sedang ngamen. Saya jadi teringat jaman ketika saya SMA dulu. Ketika saya kelas 1 SMA, saya pernah pentas seni drama tari dalam acara perpisahan kelas 3. Di situ saya menjadi guru yang di tengah-tengah cerita tingkah laku saya menjadi banci. Tapi dalam cerita jadi bancinya hanya sekilas. Oya, bukan berarti saya ini tidak gentle/macho lho ya. Waktu itu kan cuma sebagai totalitas saya memerankan peran saya. Harus profesional donk. Saya kan calon aktor Hollywood, hohohoho.

Awal mulanya saya dan group pentas saya ikut serta dalam pentas perpisahan kelas 3, karena saya ditunjuk guru seni saya untuk mementaskan drama tari kelompok saya. Drama tari tersebut pada mulanya adalah tugas sekolah dari guru seni saya. Karena bagus (mungkin) diantara kelompok lainnya, sehingga pada akhirnya guru saya tersebut menawari saya secara langsung untuk mementaskannya di acara perpisahan kelas 3. Ya saya sanggupi aja. Sampai ditawari seperti itu berarti karya saya dan teman-teman saya mendapat apresiasi bagus di mata guru saya tersebut kan. Gara-gara pentas drama itulah saya jadi sedikit tambah pede dan lumayan dikenal di SMA saya pada waktu itu. Siapa si yang tidak kenal Galuh Ristyanto? Hohoho sombongnya keluar. Kalau tidak kenal ya coba saja ketikkan nama “Galuh Ristyanto” di google, seberapa banyak nama saya nongol di google, hehehehe…

Oya satu lagi, sewaktu pentas drama di acara perpisahan kelas 3 usai, kita kan terus ke ruangan belakang panggung, tiba-tiba guru seni saya yang lain (guru seni kelas 2/3) masuk dan memberi kita masing-masing ucapan selamat  (sambil berjabat tangan) karena yang saya pentaskan bersama teman-teman sangat bagus. Hohoho… Jadi tuing-tuing neh kepala. Bangga donk. Hasil jerih payah yang kreatif ini lagi-lagi diberi apresiasi bagus oleh guru. Para siswa yang nonton juga pastinya (harus). Waktu pentas berlangsung saja banyak yang ketawa, berarti terhibur dong dengan apa yang kita suguhkan.

Akhir cerita, ini foto yang saya shoot dengan LG GW300 saya ketika nonton teater “Sang Pelacur”. Gambarnya gelap dikarenakan acaranya di dalam ruangan yang tertutup dan lampu dipadamkan, hanya panggung yang disorot.  Juga karena LG Gw300-nya belum mendukung flash light. Ketika saya ambil gambar, disebelah saya (staf/dosen) juga ambil gambar. Saya jadi minder karena beliau ambil gambar dengan kamera DSL yang semi digital trus gede dan mahal, kamera fotografer lah. Ya kalah jauh lah kamera bawaan LG GW300 saya dengan kamera DSL beliau. Tidak selevel.

diambil dengan kamera bawaan LG GW300 (2 MP)

Written by Jaole

Panggil saja "jaole".